3 Comments

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN PECS (bagian 2)


BAB II

PENINGKATAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI

ANAK AUTIS DENGAN PECS

A. Konsep Dasar Anak Autis

1. Pengertian Anak Autis

Istilah autisme pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner pada tahun 1943 (Handoyo, 2004:12; Hidayat, 2006:1). Saat itu Leo Kanner (1943) dalam Safaria (2005:1) mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, echolalia, pembalikan kalimat, adanya aktifitas bermain yang repetitif dan stereotipik, rute ingatan yang kuat, dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkunganya.

Dari deskripsi tersebut muncullah istilah autisme. Istilah autisme itu sendiri berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri (Handoyo; 2004:12). Jadi anak autis seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Mereka cenderung menarik diri dari lingkungannya dan asyik bermain sendiri.

Untuk mengartikan autisme hanya sebagai anak yang menyisihkan diri atau menyendiri bukanlah definisi yang terbaik (Peeters, 2004:5) dan kondisi itu belum cukup untuk menentukan seorang anak termasuk kategori autisme. Kesulitan yang terjadi pada anak autis sebenarnya jauh lebih besar daripada sekedar karakteristik menarik diri. Perlu ada suatu ketentuan atau kriteria yang dapat menjelaskan siapakah anak autis itu, agar masyarakat, secara luas, tidak terjebak dengan makna harfiahnya saja. Di bawah ini akan dijelaskan berbagai kriteria untuk mendefinisikan anak autis.

Seorang anak dapat dikatakan termasuk autisme, bila ia memiliki hambatan perkembangan dalam tiga aspek, yakni hambatan dalam interaksi sosial-emosional, dalam komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan, gejala-gejala tersebut sudah terlihat sebelum usia 3 tahun (Siegel, 1996:16; Moetrasi, 2000:2; Pusponegoro, 2003:2; Hidayat, 2006;2; Erlani, 2007:6). Ketiga aspek tersebut harus dipenuhi dan harus secara ketat dalam penerapannya, agar tidak sembarangan dalam menentukan apakah seorang anak itu termasuk kategori anak autis atau bukan.

Bahkan Power (1983) dalam Erlani (2007:6) menyebutkan bahwa anak autis itu harus menunjukkan enam gejala/gangguan, yaitu dalam bidang interaksi sosial, komunikasi (bicara, dan bahasa), perilaku emosi, pola bermain, gangguan sensoris, dan perkembangan yang terlambat atau tidak normal. Penampakan gejala itu biasanya muncul sebelum usia tiga tahun.

Ketentuan yang lebih terperinci lagi dan yang paling sering digunakan adalah yang didefinisikan oleh World Health Organizatioan (WHO), yang terdapat dalam ICD-10 (International Classification of Disease) edisi ke 10 (WHO, 1987 dalam Handoyo, 2003:27; Peeters, 2004:1) dan the DSM-IV (Diagnostic Statistical Manual, edisi ke 4) dikembangkan oleh American Psychiatric Association (APA, 1994 dalam Peeters, 2004:1).

Kriteria dalam ICD-10 (WHO, 1987 dalam Handoyo, 2003:27) adalah sebagai berikut

Sementara itu kriteria dari DSM-IV (APA, 1994 dalam Peeters, 2004:1) sebagai berikut:

  1. Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok 1, 2, dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok 1, paling sedikit satu pokok dari kelompok 2 dan paling sedikit satu pokok dari kelompok 3.

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut:
  1. Ciri gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku non verbal (bukan lisan) seperti kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan gerak isyarat untuk melakukan interaksi sosial.
  2. Ketidakmampuan mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  3. Ketidakmampuan turut merasakan kegembiraan orang lain.
  4. Kekurangmampuan dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.

  1. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari yang berikut:
  1. Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).
  2. Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
  3. Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinkratik (aneh).
  4. Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.

  1. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, dan stereotip seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini:
  1. Meliputi satu keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas atau stereotip yang bersifat abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.
  2. Kepatuhan yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spesifik (kebiasaan tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).
  3. Perilaku gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus-menerus membuka-tutup genggaman, memuntir jari atau tangan atau menggerakkan tubuh dengan cara yang kompleks.
  4. Keasyikan yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.

  1. Perkembangan abnormal atau terganggu pada usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini: (1) interaksi sosial, bahasa yang digunakan dalam perkembangan sosial, (2) bahasa yag digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.

  1. Sebaiknya tidak disebut dengan istilah Gangguan Rett, Gangguan Integratif Kanak-kanak, atau Sindrom Asperger.

Dari berbagai kriteria di atas maka dapat disimpulkan yang dimaksud anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang dapat diketahui sejak umur sebelum tiga tahun, mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial, emosi, dan ketertarikan terhadap perilaku tertentu.

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

2. Penyebab Autisme

Penyebab autis masih terus dicari dan masih terus diteliti oleh para ahli. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli menyebutkan berbagai faktor penyebab, yaitu gangguan neuro biologis, gangguan neuro biokimiawi otak, gangguan neuro anatomi, faktor genetik, faktor perinatal, kejang, kelainan kromosom X, dan infeksi virus (Siegel, 1996:13; Sunartini, 2000:3; Handoyo, 2003:14; Hadis, 2006:43).

a. Faktor Neurobiologis

Gangguan neurobiologis sebagai peyebab autisme didasarkan kepada beberapa pengamatan, antara lain 1) angka kejadian retardasi mental yang tinggi (75%-80%), 2) adanya rasio yang menetap antara laki-olaki dan perempuan, yaitu 4:1, 3) peningkatan kejadian kejang dan 4) adanya fakta bahwa fenilketonuria dan rubela kongenital dapat berhubungan dengan terjadinya autisme (Sunartini, 2000:3)

b. Faktor Neurobiokimiawi Otak

Gangguan biokimiawi otak yang terjadi terutama gangguan neuro transmiter. Sejak ditemukan kasus kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak autis pada tahun 1961, maka fungsi neurotransmiter pada autisme menjadi fokus penelitian para peneliti. Banyak peneliti yang beranggapan bahwa bila disfungsi neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif yang abnormal, maka dengan pemberian obat diharapkan disfungsi sistem neurotransmiter ini akan dapat dikoreksi.

c. Gangguan neuroanatomi

Gangguan anatomi otak pada autisme adalah paling menarik dan misterius dibandingkan dengan gangguan-ganguan perkembangan otak yang lainnya. Hal ini disebabkan karena kompleksnya berbagai sistem otak yang berinteraksi dan rumit karena mengenai aspek sosial, kognitif dan linguistik sehingga sangat erat dengan komunikasi dan humanitas. Terjadinya autisme banyak dikaitkan dengan maturasi (kematangan) otak. Pada 43% penyandang autime ditemukan kelainan yang khas pada lobus parietalis (Sunartini, 2000:4). Hasil pemeriksaan MRI terlihat lekukan-lekukan otak yang lebih lebar, hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah sel otak dalam lobus parietalis berkurang. Sedangkan gambaran pada serebelum lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Hanya sekitar 35 jaringan otak yang dapat dipelajari pada autisme, dan kebanyakan tidak dilakukan dengan cara yang canggih. Penelitian terhadap batang otak menunjukkan bahawa batang otak mengandung inti saraf otak fasialis yang lebih kecil.

d. Faktor Genetik

Faktor keturunan atau genetik juga berperan dalam perkembangan autisme. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil penelitian pada keluarga dan anak kembar. Penelitian dalam keluarga ditemukan 2,5-3% autisme pada saudara kandung. Dari 46 anak penyandang autisme yang didiagnosis di PPPTKA (Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak) di Yogyakarta dari tahun 1992 sampai dengan 2000 didapatkan dua orang anak kakak beradik penyandang autisme (Sunartini, 2000:3). Pada anak kembar satu telur ditemukan 36- 89% dan pada anak kembar dua telur = 0%. Pewarisan diduga melalui X-link, autosomal resesif atau multifaktorial.

e. Faktor Perinatal

Komplikasi pranatal, perinatal dan neonatal yag meningkat juga ditemukan pada anak autis (Siegel, 1996:13, Hadis, 2006:45). Komplikasi yang terjadi adalah adanya pendarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran janin pada cairan amnion yang merupakan tanda bahaya dari janin. Penggunaan obat-obat tertentu pada ibu yang sedang hamil juga diduga dapat menyebabkan timbulnya gangguan autisme. Komplikasi gejala pada saat bersalin berupa bayi terlambat menangis, bayi mengalami gangguan pernafasan, dan bayi mengalami kekurangan darah.

f. Kejang

Sindrom Landau-Klefner, suatu sindrom efilepsi pada anak, banyak dihubungkan dengan autisme.dilaporkan pula bawa EEG yang menunjukkan gelombang paku sentrotemporal dapat berhubungan dengan autisme (Sunartini, 2000:4).

g. Kelainan Kromosom X

Ditemukan adanya kaitan antara autisme dengan sindrom fragile-X, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. Pada sindrom ini ditemukan kumpulan berbagai gejala, seperti retardasi mental mulai dari yang ringan sampai berat, kesulitan belajar yang ringan, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang abnormal terjadi pada laki-laki dewasa sekitar 80%, serangan kejang, dan hiper refleksi. Gangguan perilaku juga sering tampak seperti hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, impulsif (pemaksaan kehendak), dan perilaku cemas. Gangguan perilaku lainnya dapat berupa tidak mau bertukar pandang, stereotip, pengulangan kata-kata, perhatian dan minat anak autis hanya terfokus kepada suatu benda atau objek tertentu.

h. Infeksi Virus

Infeksi virus juga diduga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi autisme. Infeksi virus tersebut disebabkan oleh congenital rubella, herpes simplex, encephalitis, dan cytomegalovirus (Depdiknas, 2002 dalam Hadis, 2006:46).

Dari semua faktor penyebab di atas muaranya adalah terjadi kerusakan pada otak (sistem saraf pusat). Akibat dari kerusakan-kerusakan tersebut menimbulkan berbagai hambatan atau gangguan perilaku dan perkembangan pada anak autis.

About these ads

About Iim Imandala

Dapat dihubungi melalui email : iim_imandala75@yahoo.co.id

3 comments on “UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN PECS (bagian 2)

  1. Terima kasih atas tulisan Ibu yang berguna bagi dunia pendidikan autis. thank’s

  2. Mohon Fase ke 5 dan 6 nya dalam PECS diteruskan kembali. thank’s.

  3. ini merupakn pencerahan bagi guru-guru autisme yyg lainn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: