10 Comments

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN PECS (bagian 3)

3. Hambatan-Hambatan Pada Anak Autis

Anak autis mengalami gangguan perkembangan yang kompleks sehingga mereka juga disebut mengalami gangguan pervasif. Peeters (2004:4) mengartikan pervasif yaitu menderita kerusakan jauh di dalam meliputi keseluruhan dirinya. Istilah pervasif juga dilandasi oleh gangguan perkembangan yang diperlihatkan oleh anak autis.

Gangguan-gangguan itu hampir meliputi seluruh aspek kehidupannya, antara lain komunikasi, interaksi sosial, gangguan dalam sensoris, pola bermain, perilaku khas, dan emosi (Riyanti, 2002:10, Peeters, 2004:5; Hidayat, 2006:2; Sunardi dan Sunaryo, 2006:193). Gangguan-gangguan tersebut jelas akan mengahambat perkembangan anak autis.

Di bawah ini dijelaskan hambatan atau gangguan-gangguan yang sering diperlihatkan oleh anak autis, diantaranya adalah:

a. Hambatan dalam komunikasi

  • Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
  • Anak tampak seperti tuli, sulit bicara, atau pernah bicara, tetapi kemudian sirna.
  • Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
  • Mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
  • Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
  • Senang meniru atau membeo (echolalia)
  • Bila senang meniru, dapat hapal betul kata-kata atau nyanyian tapi tidak mengerti artinya.
  • Sebagian dari anak autis tidak bicara (non verbal) atau sedikit berbicara sampai usia dewasa.
  • Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan.

b. Hambatan dalam interaksi sosial

  • Anak autis lebih senang menyendiri.
  • Tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindari untuk bertatapan.
  • Tidak tertarik untuk bermain bersama teman.
  • Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh.

c. Gangguan dalam sensoris

  • Sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
  • Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
  • Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
  • Tidak sensitif terhadap rasa sakit atau rasa takut.

d. Hambatan dalam pola bermain

  • Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
  • Tidak suka bermain dengan anak sebayanya.
  • Tidak kreatif dan tidak imajinatif.
  • Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya mobil-mobilan dielus-elus kemudian diciumi dan diputar-putar rodanya.
  • Senang pada benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda, dan lain-lain.
  • Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu kemudian dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

e. Gangguan perilaku khas

  • Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif).
  • Memperlihatkan stimulasi diri, seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan pada pada layar TV, lari/berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang berulang-ulang.
  • Tidak suka pada perubahan.
  • Dapat duduk benging dengan tatapan kosong.

f. Gangguan emosi

  • Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.
  • Temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau dipenuhi keinginannya.
  • Kadang-kandang suka menyerang dan merusak.
  • Kadang-kadang anak autis berperilaku menyakiti dirinya sendiri.
  • Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

Hambatan-hambatan di atas tidak semuanya ada pada anak autis. Hambatan dapat beraneka ragam sehingga hambatan yang dimiliki seorang anak autis belum tentu sama dengan anak autis lainnya. Itulah yang menyebabkan tidak ada anak autis yang benar-benar sama dalam semua tingkah lakunya.

B. Konsep Dasar Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi sering diartikan sebagai kemampuan bicara, padahal komunikasi lebih luas dibandingkan dengan bahasa dan bicara. Oleh karena itu agar komunikasi tidak diartikan secara sempit, perlu kiranya dijelaskan tentang pengertian komunikasi.

Komunikasi secara terminoligis berarti penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang pada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial (Sunardi dan Sunaryo, 2006:174). Pengertian komunikasi disini lebih menekankan komunikasi sebagai alat hubungan sosial sebagai konsekuensi dari manusia sebagai makhluk sosial. Sehingga untuk menjalankan perannya sebagai makhluk sosial manusia harus berkomunikasi.

Menurut Quill (1995) dalam Gardner, et al. (1999:2) menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang dinamis di dalamya terjadi proses enkoding dari penyampai pesan dan dekoding dari penerima pesan, terjadi pertukaran iformasi, penyampaian perasaan (melibatkan emosi), ada tujuan-tujuan tertentu serta ada penyampaian ide. Dari pengertian komunikasi tersebut dapat dikatakan bahwa komunikasi itu selalu melibatkan dua individu atau lebih dan yang terpenting adalah keinginan, maksud, pesan atau tujuan pengirim pesan dapat diterima dan dipahami oleh penerima pesan. Komunikasi menjadi aspek penting untuk mengekspresikan perasaan, gagasan, keinginan, dan kebutuhan-kebutuhan.

Untuk melakukan komunikasi ternyata dibutuhkan alat. Alat utama dalam komunikasi adalah bahasa (Jordan dan Powell, 2002:51). Berarti komunikasi itu melibatkan bahasa verbal maupun non verbal, mencakup lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah.

Dari pengertian komunikasi di atas ada tiga hal penting yang berkaitan dengan komunikasi, pertama, komunikasi harus melibatkan dua orang atau lebih, kedua, komunikasi merupakan pertukaran informasi yang bersifat dua arah, dan ketiga, mengandung pemahaman. Sebuah pengumunan yang dipasang di papan pengumuman bukan merupakan komunikasi. Tapi kalau pengumuman itu talh dibaca, dimengerti, dan ditanggapi, maka pengumuman itu bisa disebut komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif hanya jika suatu gagasan dapat berpindah dari pemikian seseorang ke pemikiran orang lain (Moore, 1987:79).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses dinamis yang menggunakan bahasa sebagai alat utamanya dalam rangka individu melakukan hubungan sosial dengan individu lainnya yang di dalamnya melibatkan ekspresi perasaan, penyampaian ide, keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan tujuan.

2. Jenis Komunikasi

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa alat/media utama komunikasi adalah bahasa, sementara bahasa itu sendiri secara umum terbagi dua, yaitu bahasa verbal (lisan) dan non verbal (isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan). Oleh karena itu komunikasi berlangsung tidak hanya dengan menggunakan kata-kata tetapi juga dengan bantuan tindakan, gerak isyarat, ekspresi wajah, gambar yang bermakna, dan tulisan.

Berdasrkan hal tersebut maka jenis komunikasi itu ada dua, yaitu:

- Komunikasi verbal (lisan)

- Komunikasi non verbal (isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan)

3. Perkembangan Komunikasi Pada Anak

Perkembangan komunikasi anak pada umumnya berawal dari tangisan bayi yang memberi tahu ibunya bahwa ia merasa lapar atau tidak nyaman. Usia sekitar 2 bulan bayi sudah mengeluarkan suara-suara (cooing) atau tertawa, bila ia merasa senang. Kemudian berkembang menjadi babbling atau pengulangan rangkaian konsonan-vokal misalnya, ma-ma-ma, ba-ba-ba. Usia sekitar 10 bulan, bayi sudah mulai mengenal kata-kata tapi belum mampu mengucapkannya dan kemudian mengucapakan kata pertamanya pada saat ia berusia sekitar 1 tahun.

Perkembangan bicara anak pada umumnya akan terus berkembang dengan pesat sehingga dalam rentang usia 16-24 bulan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak meningkat dari 50 kata menjadi kurang lebih 400 kata. Saat berusia 2 tahun, anak seharusnya sudah mampu menggunakan kata kerja, kata sifat dan melakukan pengungkapan diri dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata.

Menginjak usia 3 tahun, cara anak berbicara sudah menyamai cara orang dewasa berbicara secara informal. Anak sudah menguasai hampir 1000 kata, dapat menyusun kalimat dengan benar dan dapat berkomunikasi dengan baik. Disamping menggunakan bahasa, anak pada umumnya juga mampu berkomunikasi dengan gestur dan simbol-simbol lainnya (Papalia, 1995 dalam Riyanti, 2002:12).

Menurut Sussman (1999) dalam Sjah dan Fadhilah (2003:214) komunikasi berkembang melalui empat tahapan:

a. The own agenda stage

Pada tahap ini anak lebih suka bemain sendiri dan tampaknya tidak tertarik pada orang-orang di sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, kita harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya.

b. The requester stage

Anak mulai menyadari bahwa tingkah lakunya dapat mempengaruhi orang di sekitarnya.. bila menginginkan sesuatu, anak biaanya menarik tangan kita dan mengarahkannya ke benda yang diinginkan. Sebagian anak telah mampu mengulangi kata-kata atau suara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan dirinya. Anak juga mulai bisa mengikuti perintah sederhana tapi responnya belum konsisten.

c. The early communication stage

Anak telah menyadari bahwa ia bisa menggunakan satu bentuk komunikasi tertentu secara knsisten pada situasi khusus. Namun demikian, inisiatif berkomunikasi masih terbatas pada pemenuhan kebutuhannya. Anak mulai memahami isyarat visual/gambar komunikasi dan memahami kalimat-kalimat sederhana yang kita ucapkan. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai memanggil nama, menunjuk sesuatu yang diinginkan, atau melakukan kontak mata untuk menarik perhatian, maka berarti anak sudah siap untukmelakukan komunikasi dua arah.

d. The partner stage

Tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan bicara anak baik, ia akan mampu melakukan percakapan sederhana. Anak juga dapat diminta untuk menceritakan pengalamannya, keinginannya yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaanya. Namun demikian, biasanya anak masih terpaku pada kalimat-kalimat yang telah dihapalkan dan sulit menemukan topik pembicaraan yang tepat pada situasi baru. Bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan untuk berbiara, komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambar atau menyusun kartu-kartu bertulisan.

Agar lebih jelas mengenai pekembangan komunikasi tersebut, di bawah ini akan diberikan contoh-contoh perkembangan komunikasi pada anak menurut Rowland dan Stremmel (1987) dalam Gardner et al (1999:3) sebagai berikut:

a. Perilaku Pra-tujuan

  • Cooing (mengeluarkan suara-suara)
  • Tertawa sendiri
  • Tiba-tiba menangis tanpa sebab
  • Ekspresi wajah tanpa tujuan
  • Menggerakkan kepala

§ Gerakan badan yang tidakberaturan

b. Perilaku bertujuan

  • Memperhatikan suatu objek
  • Tersenyum
  • Bergerak ke suatu arah
  • Meraih sesuatu atau mendorong sesuatu
  • Rewel

c. Komunikasi pra simbolik non konvensional

  • Tertawa
  • Membuat suara tak beraturan
  • Kontak amata atau menggerakkan mata untuk mengikuti gerakan tangan orang lain dan mencoba meraihnya

d. Komunikasi pra simbolik konvensional

  • Mengeluarkan pola suara yang beraturan (dada, mama, baba),
  • menunjuk/mengarahkan tangan
  • mengayunkan tangan dan kaki
  • mencium
  • memeluk
  • memilih salah satu dari dua objek

e. Komunikasi simbol kongkrit

  • Mengeluakan suara untuk menunjuk objek tertentu
  • Menggunakan gestur sederhana/gerak anggota tubuh untuk mengungkapkan sesuatu, misalnya menepuk-nepuk kursi sebagaikeinginan untuk duduk di kursi.
  • Menggunakan objek kongkrit

§ Menggunakan gambar foto

f. Komunikasi simbol abstrak

§ Menggunakan kata-kata tunggal/dasar

§ Menggunakan isyarat

§ Menggunakan gambar abstrak (gambar outline)

g. Komunikasi simbol formal (berbahasa)

§ Mengkombinasikan dua kata atau lebih

§ Mengkombinasikan gambar atau simbol

§ Mengkombinasikan kata-kata yang tertulis

C. Perkembangan Komunikasi Anak Autis

Salah satu kesulitan yang dimiliki oleh anak autis adalah dalam hal komunikasi (Delphie, 2006:1). Oleh karena itu perkembangan komunikasi pada anak autis sangat berbeda, terutama pada anak-anak yang mengalami hambatan yang berat dalam penguasaan bahasa dan bicara.

Kesulitan dalam komunikasi ini dikarenakan anak autis mengalami gangguan dalam berbahasa (verbal dan non verbal), padahal bahasa merupakan media utama dalam komunikasi. Mereka sering kesulitan untuk mengkomunikasikan keinginannya baik secara verbal (lisan/bicara) maupun non verbal (isyarat/gerak tubuh dan tulisan).

Sebagian besar dari mereka dapat berbicara, menggunakan kalimat pendek dengan kosa kata sederhana namun kosa katanya terbatas dan bicaranya sulit dipahami. Karena kosa katanya terbatas maka banyak perkataan yang mereka ucapkan tidak dipahaminya. Mereka yang dapat berbicara senang meniru ucapan dan membeo (echolalia). Beberapa diantara mereka sering kali menunjukkan kebingungan akan kata ganti. Contoh, mereka tidak menggunakan kata saya dan kamu secara benar, atau tidak mengerti ketika lawan bicaranya beralih dari kamu menjadi saya atau sebaliknya (Riyanti, 2002:16).

Pada saat anak pada umumnya sudah mengetahui nama, mampu merespon terhadap ya dan tidak, mengerti konsep abstrak laki-laki – perempuan, dan mengikuti perintah-perintah sederhana. Sementara itu pada anak autis mungkin hanya echolalia terhadap apa yang dikatakan atau tidak bicara sama sekali.

Anak pada umumnya biasanya mulai mengoceh sekitar umur enam bulan. Ia mulai bicara dalam bentuk kata pada umur satu tahun dan merangkai dua atau tiga kata dalam satu kalimat sebelum delapan belas bulan. Sedangkan pada anak autis sebaliknya, ia tidak memiliki pola perkembangan bahasa. Kemampuan komunikasi mereka bervairasi, diantara mereka ada yang tidak pernah bicara, seperti anak pada umumnya sampai delapan belas bulan atau dua puluh bulan, kadang-kadang kemampuan bicara mereka hilang begitu saja.

Anak autis yang sulit berbicara, seringkali mengungkapkan diri atau keinginannya melalui perilaku. Memang untuk beberapa kasus anak autis yang ada yang sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan cara menarik tangan orang yang didekatnya atau menunjuk ke suatu arah yang diinginkan, atau mungkin menjerit. Jika orangtua atau orang disekitarnya tidak memahami apa yang diinginkannya anak akan marah-marah, mengamuk dan mungkin tantrumnya akan muncul.

Siegel (1996:44) secara umum menggambarkan perkembangan komuniksi anak autis terbagi dalam dua bagian, yaitu:

1. Perkembangan komunikasi verbal, meliputi keterlambatan berbahasa bahkan ada diantara mereka yang kemampuan berbahasanya hilang, echolalia dan menggunakan bahasa yang aneh/tidak dimengerti, menggunakan bahasa sederhana (misalnya minta makan:”Makan, ya!”).

2. Perkembangan komunikasi non verbal, meliputi menggunakan gestur, gerak tubuh, mengungkapkan keinginan dengan ekspresi emosi (menjerit, marah-marah, menangis).

Dengan perkembangan komunikasi seperti telah disampaikan di atas jelaslah anak autis akan menghadapi berbagai kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dan dengan kemampuan komunikasi seperti demikian perlu adanya suatu cara yang dapat membantu mereka untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.

D. Peningkatan Keterampilan Komunikasi Bagi Anak Autis dengan

Media PECS

1. Pengertian PECS

PECS (Picture Exchange Communication System) adalah suatu pendekatan untuk melatih komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy dan Frost, 1994:2). PECS dirancang oleh Andrew Bondy dan Lori Frost pada tahun 1985 dan mulai dipublikasikan pada tahun 1994 di Amerika Serikat. Awalnya PECS ini digunakan untuk siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yang berkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalah mereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan PECS telah meluas dapat digunakan untuk berbagai usia dan lebih diperdalam lagi.

Dengan menggunakan PECS bukan berarti menyerah bahwa anak tidak akan bicara, tetapi dengan adanya bantuan gambar-gambar atau simbol-simbol maka pemahaman terhadap bahasa yang disampaikan secara verbal dapat dipahami secara jelas. Memang, pada tahap awalnya anak diperkenalkan dengan simbol-simbol non verbal. Namun pada fase akhir dalam penggunaan PECS ini, anak dimotivasi untuk berbicara. Meskipun PECS bukanlah program untuk mengajarkan anak autis cara berbicara, pada akhirnya mendorong mereka untuk berbicara.

Ada kekhawatiran orangtua terhadap anaknya yang menggunakan PECS ini. Mereka khawatir anaknya tidak bisa bicara dan ketergantungan terhadap gambar. Untuk itu Schwartz (1998) dalam www. autism.healingthresholds.com) melakukan penelitian pada 18 orang anak-anak pra sekolah yang mengalami gangguan berbahasa, beberapa diantara mereka didiagnosa sebagai anak autis. Mereka mendapat penanganan dengan menggunakan PECS. Anak-anak tersebut menggunakan PECS untuk berkomunikasi selama di sekolah, tidak hanya pada sesi latihan saja. Ternyata setelah setahun, lebih dari setengahnya telah berhenti menggunakan PECS dan mulai menggunakan kemampuan bicara alaminya.

Tidak ditemukan adanya dampak negatif dari penggunaan PECS ini (Bondy, 2001). Ada pun kekhawatiran akan adanya ketergantungan pada PECS dan keterampilan bicara anak autis menjadi tidak berkembang, pandangan/kekhawatiran itu tidak didasari oleh hasil penelitian. Kenyataanya banyak bukti bahwa anak-anak autis yang menggunakan PECS perkembangan keterampilan bicaranya lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak menggunakan PECS (Bondy, 2001).

Penelitian terakhir oleh Yoder dan Stone (2006) membandingkan antara anak-anak yang menggunakan PECS dengan sistem yang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak autis yang dilatih dengan menggunakan PECS lebih verbal dibandingkan dengan yang lain. PECS ini akan lebih efektif mendorong anak autis untuk lebih verbal jika dilatihkan pada anak berusia di bawah enam tahun.

Berdasarkan pengalaman Wallin (2007:1) ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh PECS ini, diantaranya:

§ Setiap pertukaran menunjukkan tujuan yang jelas dan mudah dipahami. Pada saat tangan anak menunjuk gambar atau kalimat, maka dapat dengan cepat dan mudah permintaan atau pendapatnya itu dipahami. Melalui PECS, anak telah diberikan jalan yang lancar dan mudah untuk menemukan kebutuhannya.

§ Sejak dari awal, tujuan komunikasi ditentukan oleh anak. Anak-anak tidak diarahkan untuk merespon kata-kata tertentu atau pengajaran yang ditentukan oleh orang dewasa, akan tetapi anak-anak didorong untuk secara mandiri memperoleh “jembatan” komunikasinya dan terjadi secara alamiah. Guru atau pembimbing mencari apa yang anak inginkan untuk dijadikan penguatan dan jembatan komunikasi dengan anak.

§ Komunikasi menjadi sesuatu penuh makna dan tinggi motivasi bagi anak autis.

§ Material (bahan-bahan) yang digunakan cukup murah, mudah disiapkan, dan bisa dipakai kapan saja dan dimana saja. Simbol PECS dapat dibuat dengan digambar sendiri atau dengan foto.

§ PECS tidak membatasi anak untuk berkomunikasi dengan siapapun. Setiap orang dapat dengan mudah memahami simbol PECS sehingga anak autis dapat berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya dengan keluarganya sendiri.

Pembelajaran komunikasi melalui PECS ini harus dimulai dari objek yang benar-benar anak inginkan. Oleh karenanya menurut Bondy dan Frost (1994) dalam Gardner, et al. (1999:11) dalam penerapan PECS ini perlu adanya penggunaan modifikasi perilaku. Melalui modifikasi perilaku tersebut akan diketahui apa yang anak inginkan. Objek yang diinginkan tersebut akan menjadi penguatan bagi anak untuk melakukan komunikasi melalui pertukaran gambar.

2. Menyiapkan Material (Bahan-bahan) yang Digunakan

Material yang digunakan dalam PECS cukup murah. Simbol atau gambar dapat diperoleh dengan cara menggambar sendiri, dari majalah atau koran, foto, atau gambar dari komputer (clip art atau dari internet). Bisa juga menggunakan material resmi PECS yang diterbitkan oleh Pyramid Educational Consultants. Inc. Gambar-gambar atau simbol itu dibentuk kartu kemudian dilaminating agar awet dan di belakang gambar itu dipasang pengait (velcro) atau double tape agar bisa dipasang atau digantung pada berbagai media. Untuk menyimpan kartu gambar diperlukan file.

Dibawah ini sebagian contoh gambar yang dapat di gunakan:

contohgambar1

contohgambar2

Sumber: http://www.widgit.com

Gambar-gambar dan simbol dikelompokkan dan disusun dari yang paling mudah sampai yang paling sulit. Gambar dan simbol dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori, misalnya:

Ø Orang dan jenis kelamin

Ø Profesi

Ø Kata benda, kata kerja, kata siifat, kata depan

Ø Binatang

Ø Bagian tubuh

Ø Pakaian dan perlengkapannya

Ø Jenis pekerjaan

Ø Rumah dan perlengkapannya

Ø Makanan

Ø Perlengkapan masak

Ø Transportasi

Ø Tempat-tempat umum

Ø Waktu dan cuaca

About Iim Imandala

Dapat dihubungi melalui email : iim_imandala75@yahoo.co.id

10 comments on “UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS DENGAN MENGGUNAKAN PECS (bagian 3)

  1. saya senang sekali mendapat artikel ini. Kalau ada rtiel yg menark bisa dikirim ke email saya. terimakasih

  2. saya senang sekali mendapatkan artikel ini. Kalau ada artikel yg menarik bisa dikirim ke email sy.mksh

  3. TQ atas infonx ya.kalau ada artikel tentang anak dg gangnguan emosi kirimi dong ke email sy.mksh

  4. Wah, thank’s banget, kamu sangat membatu. Tingkatkan terus ya,,,,,

  5. terima kasih telah berkunjung ke blog saya…

  6. Alhamdulillah mudah2an ini bermanfaat bagi ade

  7. Pusat terapi & tumbu kembang anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi untuk anak-anak autism, ADD, ADHD, Down syndrom, CP dll dengan terapi terpadu, speech therapy, sensori integrasi, behavior therapy, fisioterapi, pendampingan ke sekolah umum, home visit therapy. Beralamat di Jl Perintis Kemerdekaan, Perum Gambiran C 2 UH V Yogyakarta. untuk info lebih lanjut hubungi 0274 8267882

  8. di tunggu artikel2 selanjutnya,sebagai terapis wicara saya sgt mendukung…

  9. Tekhnikkk komter y yachhh pngen sma ptunjuk gambar y…………

  10. ini kan judul skripsi sy.. isi nya pun sama persis dengan skripsi saya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: