Leave a comment

Ahmad Basri – Sumber Inspirasi Tuna Netra Meraih Gelar Doktor

Sumber: detik.com

Ema Nur Arifah – detikBandung

ahmad-barsi-insert

Ahmad Basri

Bandung – Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, tak membuat Ahmad Basri (61) hilang kegigihan dalam meraih pendidikan. Ahmad menjadi sumber inspirasi penyandang tunanetra dalam meraih gelar doktor.

Upaya Ahmad untuk mengenyam pendidikan yang cukup bukanlah hal yang mudah. Sebelum hijrah ke Bandung, Ahmad tinggal di tanah kelahirannya Kabanjahe, Medan, selama 15 tahun.

Selama itu, Ahmad tidak pernah sekalipun duduk di bangku sekolah. “Saat itu saya berpikir saya calon pengemis,” canda pria kelahiran tahun 1948 ini.

Ketika ayahnya mengajak Ahmad ke Bandung, Ahmad diperkenalkan ke Rumah Buta Wyata Guna. Namun kala itu Ahmad sudah tidak bisa lagi ikut sekolah karena usianya sudah melampaui usia SD. Dia hanya bisa mengikuti latihan kerajinan membuat keset.

“Saat itu saya jadi calon tukang keset,” canda Ahmad lagi.

Tapi semangat untuk belajar tetap berkibar. Saat ada sekolah persamaan SD dengan getol Ahmad mengikuti walau harus mengesampingkan latihan kerajinannya.

“Saya bandel jarang latihan kerajinan karena semangat untuk sekolah,” ujarnya.

Ahmad pun memberanikan diri mengajukan untuk lompat ke kelas 6. Hanya dalam tempo setahun, sekitar tahun 1964, Ahmad mengikuti ujian dan bisa menyelesaikan pendidikan di SD.
Setelah menyelesaikan SMP di Wyata Guna, Ahmad melanjutkan SMA umum, SMA PGII. Di PGII, Ahmad lagi-lagi mengajukan lompat kelas. Dalam waktu dua tahun, dia pun mendapatkan ijazah SMA.

Tahun 1973, Ahmad lulus dengan predikat sarjana muda di jurusan Bahasa Inggris IKIP (sekarang UPI). Dilanjutkan dengan meraih gelar sarjana penuh tahun 1977.

Tahun 1986, Ahmad mendapat kesempatan mengikuti post graduate course di Australia. Di Australia dia melihat sudah banyak penyandang cacat yang meraih gelar S2 dan S3 sedangkan di Indonesia belum ada.

Melalui berbagai beasiswa yang didapatkannya, Ahmad pun melanjutkan pendidikan di IKIP, jurusan Bahasa Indonesia dan selesai tahun 1992.

Namun untuk meraih gelar doktor� membutuhkan waktu yang sangat lama. Dimulai tahun 1993 dan baru lulus tahun 2001 lalu. “Di mana ada kemauan pasti ada jalan,” ujar suami dari Iin Nuraeni ini.

Sebagai pelopor untuk menempuh pendidikan sampai tingkat tinggi banyak mendapat hambatan. Namun selepas dirinya, para penyandang cacat khususnya tunanetra mendapatkan kemudahan dalam pendidikan.

Diakui Ahmad, penerusnya sekarang banyak yang lebih pintar dari dirinya. “Saya nggak pintar-pintar amat tapi saya gigih,” ucapnya.

Ahmad pun dipercaya menjadi kepala sekolah di sebuah SLB di Cimahi. Setelah pensiun, bersama sang istri Iin Nuraeni, Ahmad sedang merintis sebuah SLB di kawasan Komplek Sukaasih.
(ema/ahy)

About Iim Imandala

Dapat dihubungi melalui email : iim_imandala75@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: