1 Comment

RESUME: Review on Philosophy, Theory, Practice of Developmental Guidance and Counseling

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN KHUSUS

 

Dosen:

Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.

 

Oleh

IIM IMANDALA

NIM 0908262

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS

SEKOLAH PASCASARJANA S2

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2010

 

Resume:

Review on Philosophy, Theory, Practice of Developmental Guidance and Counseling

 

A. Dasar Pemikiran

Dunia pendidikan memperoleh tantangan untuk mampu menjawab permintaan menciptakan manusia Indonesia masa depan. Bangsa dan negara ini berharap banyak kepada dunia pendidikan agar mampu melahirkan generai-generasi masa depan sebagaimana tertulis dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UUSPN No 20 tahun 2003). Selanjutnya tujuan tersebut diistilahkan sebagai tujuan utuh pendidikan nasional (TUPN).

Makna TUPN menurut Sunaryo K (…) ada tiga, yaitu:

(1) tujuan eksistensial yang terefleksikan dalam perkembangan kemampuan, watak atau karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat, (2) tujuan kolektif terwujud dalam kecerdasan kehidupan bangsa; (3) tujuan individual terwujud dalam perkembangan potensi peserta didik.

 

Dari ketiga makna tersebut maka ada dua standar kompetensi umum (ABKIN, 2007) yang diharapkan dapat dipenuhi dalam pembelajaran. Kompetensi itu adalah pemenuhan standar kemandirian peserta didik dan pemenuhan standar kompetensi lulusan. Standar kemandirian peserta didik merupakan perwujudan diri secara akademik, vokasional, social,  dan personal melalui layanan yang memandirikan. Standar kompetensi lulusan merupakan penumbuhan karakter yang kuat serta penguasaan hard skill dan soft skill melalui pembelajaran yang mendidik (ABKIN, 2007).

Berdasarkan regulasi yang berlaku, kedua kompetensi tersebut harus mampu diwujudkan oleh tenaga pendidik. Tenaga pendidik disini sebut saja guru. Namun kenyataannya dalam jalur pendidikan formal peran guru untuk mewujudkan itu masih bersifat parsial (ABKIN, 2007).  Layanan yang dilakukan oleh guru bersifat pembelajaran yang mendidik, menggunakan materi bidang studi atau bahan ajar sebagai basis layanan. Sedangkan layanan yang memandirikan tidak menggunakan materi pelajaran sebagai basis layanan tapi ada upaya-upaya unik yang tentunya berbeda dengan layanan yang dilakukan oleh guru (ABKIN, 2007). Sehingga dibutuhkan tenaga atau sumber daya lain yang mampu memberikan layanan yang memandirikan peserta didik dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga peserta didik sukses di sekolah, serta memperoleh perkembangan yang optimal.

Sumber daya itu nantinya akan bahu-membahu dengan guru melakukan proses layanan yang komprehensif untuk keberhasilan pembelajaran yang akan bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan nasional. Layanan yang dilakukan sumber daya itu adalah bimbingan dan konseling karena persoalan kemandirian peserta didik, vokasional, social, dan personal merupakan wilayah layanan bimbingan dan konseling. Meskipun demikian, dalam prakteknya, kedua wilayah itu (layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan dan layanan pembelajaran yang mendidik) saling melengkapi (komplementari) (ABKIN, 2007). Artinya guru dan tenaga ahli bimbingan dan konseling (sebut saja konselor) akan bekerjasam dengan baik.

Dalam implementasinya, tentu akan menghadapi berbagai tantangan. Paling tidak ada dua tantangan, yaitu pertama: memberikan keterampilan khusus kepada guru agar mampu meberikan layanan bimbingan konseling bila mana di sekolahnya belum ada konselor. Kedua: menempatkan tenaga konselor di sekolah atau pada pendidikan formal dalam setiap jenjang dan satuan pendidikan.

Oleh karena itu perlu adanya kajian secara filosofis, teoritis, dan praktis untuk menjawab tantangan di atas. Kajian-kajian yang komprehensif penting dilakukan agar tidak terjadi layanan yang tumpang tindih sehingga tidak jelas arah dan tujuan program pembelajaran. Bukanya mencapai tujuan yang diharapkan, malahan saling mencedrai layanan yang dibutuhkan.

 

B. Landasan Filosofis

Subyek yang dilayani guru dan bimbingan dan konseling adalah peserta didik (manusia). Oleh karenanya landasan filosofis yang digunakan dalam bimbingan dan konseling adalah pada dasarnya memahami hakekat manusia sehingga manusia tidak menyimpang dari hakekatnya itu. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya (Mohammad Rofiul, 2010).

Layanan bimbingan dan konseling harus mampu mengembangkan berbagai potensi dan lingkungan belajar yang kondusif sehingga peserta didik memahami hakekat dirinya sehingga mencapai perkembangan yang optimal.

Pada tahapan perkembangan tertentu, peserta didik sebagai manusia, mengalami kesulitan-kesulitan untuk memahami hakekat dirinya sehingga pada tahap tertentu, tidak sedikit peserta tidak mencapai perkembangan yang optimal. Untuk itulah seolah ahli layanan bimbingan dan konseling (konselor) harus memiliki landasan filosofis yang memahami hakekat peserta didik sebagai manusia secara utuh yang sedang tumbuh dan berkembang.

 

C. Komplemetaritas Guru dan Konselor

Guru dan konselor merupakan dua sumberdaya manusia (diantara sumber daya lain) yang dibutuhkan oleh system pendidikan nasional. Keduanya bersama-sama berupaya memberikan yang terbaik agar peserta didik bekembang secara optimal. Upaya itu tentunya akan bermuara pada pencapaian TUPN.

Karena keduanya memiliki subyek yang sama maka dalam prakteknya akan saling bekerjasama saling melengkapi (komplementari). Kemudian, bagaimana wilayah layanannya itu saling melengkapi. ABKIN (2007) telah memberi gambaran yang jelas mengenai wilayah layanan guru dan konselor.

Wilayah layanan guru meliputi pemenuhan standar kompetensi lulusan: penumbuhan karakter yang kuat serta penguasaan hard skill dan soft skill melalui pembelajaran yang mendidik. Basis layanannya adalah materi pelajaran (bidang studi) atau bahan ajar.

Wilayah layanan konselor meliputi pemenuhan standar kompetensi kemandirian peserta didik: perwujudan diri secara akademik, vokasional, sosial, dan personal melalui bimbingan dan konseling yang memandirikan.

Keduanya dapat terintegrasi dalam pembelajaran tentunya dalam konteks kolaborasi yang saling melengkapi. Hal-hal yang diluar jangkauan guru (out of reach) dalam proses pembelajaran maka dapat dilayani oleh konselor.

D. Bimbingan dan Konseling berbeda dengan Layanan Psikoterapi

Layanan bimbingan konseling konsisten terhadap wilayah pemenuhan standar kompetensi kemandirian peserta didik: perwujudan diri secara akademik, vokasional, sosial, dan personal melalui bimbingan dan konseling yang memandirikan. Perbedaannya dengan psikoterapi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Konseling Psikoterapi
Ditujukan pada orang normal Ditujukan kepada orang yang mengalami gangguan psikologis
Lebih mendidik, memberikan dorongan, berorientasi pada masalah yang disadari, dan jangka pendek Lebih merekonstruksi, konfrontasi, berorientasi pada hal-hal di bawah sadar, dan jangka panjang
Lebih terstruktur dan ditujukan terbatas, serta memiliki tujuan yang kongkrit. Tujuannya sering berubah sejalan dengan perkembangan/kemajuan orang yang dilayani.

 

E. Bimbingan dan Konseling sebagai Layanan dan Profesi

Bimbingan dan konseling sebagai layanan sedikitnya memerlukan 4 pendekatan (pendekatan krisis, remedial, pencegahan, dan perkembangan). Pendekatan perkembangan dipandang pendekatan yang komprehensif sehingga disebut pendekatan komprehensif.

Sebagai layanan yang memiliki pendekatan yang komprehensif maka ada beberapa komponen di dalamnya, yaitu: asumsi dasar dan kebutuhan dasar, teori bimbingan perkembangan, kurikulum dan tujuan bimbingan perkembangan, prinsip-prinsip bimbingan perkembangan, program bimbingan dan konseling, serta kebutuhan acuan yuridis dan model nasional untuk memperoleh standar layanan juga untuk melindungi layanan bimbingan dan konseling sebagai profesi.

Sebagai profesi maka dibutuhkan aturan-aturan dan penatalaksanaan layanan agar tidak tumpang tindih dengan profesi lain terutama dengan profesi guru. Untuk itu perlu adanya penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

ABKIN (2007). Naskah Akademik: Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

 

Mohammad Rofiul (2010). Landasan Filosofis Bimbingan. Tersedia di: http://mohamadrofiul.blogspot.com/2010/05/makalah. [online]: 3 Oktober 2010.

 

Sunaryo Kartadinata (…).Review on Philosophy, Theory, Practice of Developmental Guidance and Counseling. tersedian di: Webpage: file.upi.edu: FIP: PPB: Sunaryo Kartadinata. [online]: 29 September 2010.

 

Sunaryo Kartadinata (…). Grand Design Pendidikan Nasional. Makalah: ISPI.

 

About Iim Imandala

Dapat dihubungi melalui email : iim_imandala75@yahoo.co.id

One comment on “RESUME: Review on Philosophy, Theory, Practice of Developmental Guidance and Counseling

  1. TERIMA KASI ATAS BANTUANYA DALAM MEMPERLANACAR KULIAH KAMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: